Kerja sama antara pemerintah dengan industri swasta
dalam pengembangan obyek wisata tempat-tempat yang bernilai historikal
di kota Semarang sendiri sangat verpengaruh pada kota tersebut dan dapat diformulasikan dengan beberapa kebijaksanaan
antara lain:
1. Peningkatan kerjasama pemerintah dengan pihak swasta
Yaitu memantapkan koordinasi dan kerjasama pelaku-pelaku parwisata ,misalnya kerjasama pemerintah dengan industry, restoran, biro perjalanan, dan toko souvenir. Kerjasama ini juga perlu dilakukan dengan lembaga-lembaga pendidikan terutama berupa pelatihan-pelatihan dan penelitian-penelitian yang mengupas mengenai bagaimana cara memanfaatkan tempat-tempat bernilai historical guna menunjang dunia pariwisata.
2. Penambahan dan pengadaan sarana dan prasarana obyek wisata
Yaitu menambah dan pengadaan terhadap sarana dan prasarana yang dapat menunjang kepuasan pelayanan bagi wisatawan, misalnya tersedianya sarana transportasi yang baik, tempat ibadah, tempat penginapan, restoran, dan kamar kecil yang bersih di kawasan wisata.
3. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
Yaitu peningkatan kualitas keterampilan profesi bagi insan pariwisata, misalnya pemberian diklat tentang pemanfaatan obyek wisata sejarah, penentuan tentang kawasan yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata sejarah yang masih ada hingga kini, dan juga diklat yang berhubungan dengan pelestarian tempat-tempat bersejarah sesuai dengan Undang-Undang cagar budaya.
4. Distination Information Sistem dikembangkan
Yaitu mengaktifkan kegiatan-kegiatan pemasaran obyek wisata baru berupa tempat-tempat bersejarah, sekaligus memberikan informasi yang jelas dan mudah terhadap obyek tersebut. Misalnya, pembuatan brosur-brosur obyek wisata sejarah yang di tempatkan di tempat-tempat yang strategis seperti, bandara, terminal, stasiun kereta api dan di tempat-tempat keramaian seperti pasar. Dalam brosur ini harus menjelaskan dan dapat memberikan informasi-informasi mengenai lokasi dari tempat-tempat dari bersejarah tersebut, keunikannya, dan transportasi menuju ke kawasan tersebut.
5. Peningkatan penyuluhan sadar wisata berdasarkan Sapta Pesona
Yatu peningkatan terhadap pemberian penyuluhan sadar wisata kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat yang berada di daerah atau kawasan obyek wisata, dengan materi penyuluhan berwawasan Sapta Pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan).
Faktor-faktor
pendukung dan penghambat dalam pengembangan obyek wisata bernilai
historikal di kota Semarang. Sering kali kita mendahulukan kepentingan
pribadi katimbang kepentingan umum setidaknya kita semua bisa
melestarikan wisata kota kita. cukup sekian semoga info Perkembangan Wisata daerah Kota Semarang saat ini dari kami
bermanfaat.
1. Peningkatan kerjasama pemerintah dengan pihak swasta
Yaitu memantapkan koordinasi dan kerjasama pelaku-pelaku parwisata ,misalnya kerjasama pemerintah dengan industry, restoran, biro perjalanan, dan toko souvenir. Kerjasama ini juga perlu dilakukan dengan lembaga-lembaga pendidikan terutama berupa pelatihan-pelatihan dan penelitian-penelitian yang mengupas mengenai bagaimana cara memanfaatkan tempat-tempat bernilai historical guna menunjang dunia pariwisata.
2. Penambahan dan pengadaan sarana dan prasarana obyek wisata
Yaitu menambah dan pengadaan terhadap sarana dan prasarana yang dapat menunjang kepuasan pelayanan bagi wisatawan, misalnya tersedianya sarana transportasi yang baik, tempat ibadah, tempat penginapan, restoran, dan kamar kecil yang bersih di kawasan wisata.
3. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
Yaitu peningkatan kualitas keterampilan profesi bagi insan pariwisata, misalnya pemberian diklat tentang pemanfaatan obyek wisata sejarah, penentuan tentang kawasan yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata sejarah yang masih ada hingga kini, dan juga diklat yang berhubungan dengan pelestarian tempat-tempat bersejarah sesuai dengan Undang-Undang cagar budaya.
4. Distination Information Sistem dikembangkan
Yaitu mengaktifkan kegiatan-kegiatan pemasaran obyek wisata baru berupa tempat-tempat bersejarah, sekaligus memberikan informasi yang jelas dan mudah terhadap obyek tersebut. Misalnya, pembuatan brosur-brosur obyek wisata sejarah yang di tempatkan di tempat-tempat yang strategis seperti, bandara, terminal, stasiun kereta api dan di tempat-tempat keramaian seperti pasar. Dalam brosur ini harus menjelaskan dan dapat memberikan informasi-informasi mengenai lokasi dari tempat-tempat dari bersejarah tersebut, keunikannya, dan transportasi menuju ke kawasan tersebut.
5. Peningkatan penyuluhan sadar wisata berdasarkan Sapta Pesona
Yatu peningkatan terhadap pemberian penyuluhan sadar wisata kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat yang berada di daerah atau kawasan obyek wisata, dengan materi penyuluhan berwawasan Sapta Pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan).

